Jumat, 04 Desember 2015

Mall Panakukang Makasar

Hi.. sahabat dan sahabatwati...
Kali ini saya akal menulis tentang cara menuju ke MP (Mall Panakukang), sebuah mall besar yang ada di kota Makassar.
Saat sahabat dan sahabatwati ingin ke MP dan tidak tahu jalan, tanyakan saja pada peta.. hhi. Tentu saja tidak. Ada banyak jalnan menuju MP. Sahabat dan sahabatwati bisa naik transportasi umum atau jika anda punya kendaraan sendiri, tentu saja sahabat dan sahabatwati boleh menggunakannya.
Alat transportasi yang tersedia seperti microlet atau biasa disebut pete-pete. Kemudian ada ojek, taksi dan bus.
Untuk taksi dan ojek, akan mudah menemukan MP karena sopir taksi dan pengendara ojeknya tentu akan menjadi pengantar yang baik. Tapi untuk itu, sahabat dan sahabatwati harus membayar dengan harga yang cukup tidak murah.
Untuk microlet, sahabat dan sahabatwati perlu memperhatikan microlet yang anda naiki. Jangan sampai sahabat dan sahabatwati salah naik angkot. Is..is..is...
Berikut saya uraikan cara ke MP naik Microlet dari beberapa tempat di Makassar.
·         BTP : ambil Microlet tujuan sentral, lalu anda bisa berhenti setelah flyover atau untuk memudahkan turunlah di depan RS AWAL BROSS, kemudian menyebrang ke seberang jalan untuk mengambil microlet dengan tulisan “IKIP”. Et, sebelum naik jangan lupa menyebutkan tempat tujuan anda agar anda tidak terlalu lama berada dalam microlet tersebut.
·         Daya/Suding : hampir sama dengan BTP, cukup naik microlet tujuan sentral, kemudian lakukan hal yang sama seperti hal diatas.
·         Antang : sama juga
·         UNHAS : ambil microlet bertuliskan no. “2” atau ”5”. dan berhenti di tempat yang sama seperti yang saya jelaskan sebelumnya.
Buat sahabat dan sahabatwati yang tidak suka nyebrang, bisa kok behenti sebelum flyover dan jalan kaki ke arah flyover buat ambil angkot yang diinginkan. Tapi itu bakalan membuat sahabat dan sahabatwati kecapeaan lohh...
Nah, gamana dengan bus? sahabat dan sahabatwati bisa menunggu di tempat pembernetian bus atau halte terdekat. Biasa bus juga punya arah tujuan yang berbeda-beda. Untuk sampai ke tempat tujuan sahabat dan sahabatwati butuh menyambung dari bus yang satu ke bus yang lainnya.

Sekian informasi dari saya. Maaf ya, jika kurang membantu tapi insyaALLAH ada manfaatnya. Wassalam....

Minggu, 01 November 2015

Analisis Struktur Novel Dadaisme Karya Dewi Sartika

Tugas Introduction to Literature
Struktur Novel Dadaisme
Karya Dewi Sartika


Oleh :
Nur Rahmawati




Judul            : Dadaisme
Pengarang   : Dewi Sartika
Penerbit        : Matahari, 2004
Didigitalkan  : 19 Mei 2008
ISBN                        : 9793618043, 9789793618043
Tebal Buku   : 234 halaman
Sinopsis        :
Novel Dadaisme karya Dewi Sartika menceritakan tokoh-tokoh yang unik, dengan benang merah perselingkuhan dan anak-anak yang lahir darinya. Tiap tokohnya mempunyai konflik yang sedemikian rumit, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk menyelesaikan permasalahannya masing-masing, misalnya dengan mengakhiri hidup orang lain atau dengan bunuh diri. Kekacauan tokoh dan alur dalam novel ini pada hakikatnya merupakan gambaran manusia masa kini, yakni tentang orang-orang yang sibuk menghadapi berbagai masalah tanpa sempat mendalami masing-masing masalahnya.
Tokoh utama bernama Nedena, anak berumur 10 tahun yang dianggap gila akan sikapnya yang aneh untuk anak seusianya. Sejak lahir Nedena tidak mempunyai ayah sedangkan Ibunya telah meninggal dunia tetapi ia mempunyai bibi yang bertanggung jawab mengasuhnya.. Ia sangat pendiam dan tidak dapat berbicara, bukan karena dia bisu namun kegembiraannya seperti tertelan oleh waktu. Ia sangat membenci warna biru, bahkan ia tidak tahu kenapa. Ia beranggapan bahwa warna biru itu warna yang jelek, sehingga setiap kali ia menggambar langit, ia mewarnainya dengan beragam warna kecuali warna biru. Setiap ia merasa kesepian, akan datang seorang malaikat kecil bernama Michail yang mempunyai satu sayap hitam tidak seperti malaikat pada umumnya yang memiliki dua sayap putih. 
Malaikat itu seperti gambaran imajinasi antara ada dan tiada yang selalu datang mememani orang yang sedang dalam kesedihan. Karena dianggap gila dan aneh oleh orang-orang termasuk bibi dan gurunya di sekolah, ia dibawa dan di rawat oleh seorang Psikater bernama Dr. Aleda. Mereka mengharapkan agar Nedena kembali normal. Kebetulan Dr. Aleda tertarik untuk menyelidiki sikap aneh Nedena tersebut. Selama Dirawat, Michail selalu menemani Nedena kemanapun. Suatu hari Nedena menjalani terapi hipnosa, ia ditanya-tanya tentang masa lalunya, tetapi ia tidak ingat. Bahkan ingatannya seperti pembekuan waktu. Ketika ia di minta untuk menggambar kesukaannya, ia menggambar anak kecil dengan satu sayap hitam menyerupai malaikat.
Selain Nedena, hal serupa juga dialami seorang anak bernama Flo yang beusia 14 tahun. Gambar kesukaannya pun menyerupai gambaran yang digambar Nedena. Ia juga bersikap aneh, namun sikap anehnya tidak menonjol sehingga ia seperti anak normal lainnya. Suatu malam, ia membantai keluarganya, mulai dari ayah, ibu, kakak, dan adiknya. Setelah ia membantai keluarganya ia mengundang beberapa teman kelasnya ke rumahnya dengan alasan ada sebuah pesta. Anehnya ia tidak menyadari bahwa ia telah membunuh keluarganya. Bahkan saat ditanya tentang keluarganya, ia menjawab bahwa keluarganya sedang dirumah dan masih hidup.
Misteri terpecahkan saat Dr. Aleda kembali melakukan hipnosa kepada Nedena, mula-mula Nedena menyebut dan memanggil-manggil nama “Michail”. Dia mulai bicara walau dalam keadaan tidak sadar. Lambat laun ia teringat masa lalunya yang entah berberapa tahun yang lalu, tampaknya saat Nedena berusia 6 tahun. Tanpa sadar ia menceritakan kejadian-kejadian yang mengunci pita suaranya. Pada saat itu Nedena ingin memiliki mainan yang bewarna biru, namun ibunya malah memarahinya. Nedena ingin main api yang baru menyala yang bewarna biru, tapi api itu membesar dan Nedena lari keluar rumah karena Nedena takut dimarahi ibunya. Kemudian api itu membakar rumah Nedena sedangkan Ibunya masih tertidur didalam rumah. Nedena merasa ia yang telah membuat ibunya meninggal. Saat ia kembali ke alam sadarnya, ia seperti kebingungan dan menangis.
Lama-kelamaan Dr.Aleda menyukai anak manis ini, ia ingin mengadopsi Nedena. Terlebih dahulu ia meminta izin pada suami dan madunya, dan merekapun setuju. Aleda sangat senang, ia ingin segera memberi tahu dan menjemput Nedena. Saat ia dalam perjalanan kembali ke kantor psikaternya, sepintas ia melihat sosok yang hanya ada dalam bayangan dan gambar-gambar Nedena, Aleda tampak bingung dengan apa yang dilihatnya. Saat ia kembali ke kantornya, perasaannya sangat tidak enak. Saat ia sampai di ruangannya, ia menjerit pilu bertapa tragisnya melihat Nedena yang menggantungkan leher kecilnya dengan seutas tali di ruang praktiknya.

Biografi Dewi Sartika Pengarang Novel Dadaisme
Dewi sartika yang biasa disapa dewi ini, lahir di Cilegon 27 Desember 1980. Gadis berdarah Minang ini adalah seorang mahasiswi lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung angkatan 2000.
Meskipun dia lahir bukan dari keluarga seni tapi kegemaran menulisnya sudah terlihat sejak dia duduk dibangku SD. Waktu SMP pun ia sudah menulis dan dimuat di majalah Bobo. Sehingga diapun mulai serius menulis diwaktu SMA dan lahirlah cerpen remaja pertamanya berjudul Kakaku Arjuna yang dimuat di majalah sekolah dan menjadi pilihan favorit redaksi saat itu. Dewi kemudian banyak menulis cerpen remaja, yang pop, namun tidak pernah ada yang dimuat. Sehingga malas untuk menghitung cepen yang ditolak itu. Dewi sempat putus asa, namun itu tidak berlangsung lama karena dia sadar kalau dia mencintai menulis dan tidak bisa berhenti. Ia menemukan cara untuk menikmati penolakan dengan memahami emosi dan hal inilah yang mendorong emosinya untuk menulis dua kali lebih besar. Dewi menyadari bahwa ia sangat lemah dalam membangun penokohan dalam bentuk cerpen. Akhirnya, ketika Dewi semester tiga, ia memutuskan untuk menulis novel. Dewi tertarik akan adanya dunia halusinasi atau autis dan karena ketertarika ini munculah novel pertamanya Dadaisme pada tahun 2003, dan novel inilah yang menjadikan dewi sebagai salah satu novelis yang diakui, karena karyanya yang dianggap luar biasa.
Dadaisme ini adalah pemenang pertama Sayembara Novel 2003 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Meskipun kehadiran Dadaisme ini mendapat kritikan dari teman-temanya dan beberapa orang karena dirasakan untuk tidak layak terbit, dalam hal ini Dewi Sartika menyadari kalau sebagai manusia dia penuh kekurangan. Dalam hal ini semangat dewi tidak putus, dan ini terbukti dengan hadirnya karya-karyanya seperti Natsuka (2004), dan Empat Cara Menjadi Cantik (2004).
ANALISIS STRUKTURAL NOVEL DADAISME
A.   Unsur Intrinsik
1.    Tema
Novel Dadaisme mengemukakan masalah kehidupan manusia sekarang, atau gambaran manusia masa kini, masa dimana masing-masing orang sibuk menghadapi berbagai masalah tanpa sempat mendalami msing-masing masalah. Masalah ini antara lain tentang halusinasi, kematian, perjodohan, dan berbakti pada orang tua.
2.    Tokoh dan Penokohan
a.    Tokoh Sentral
1)    Tokoh Nedena
Tokoh Nedena, dalam cerita digambarkan sebagai gadis cilik yang polos yang hobi menggambar. Dalam novel “DADAISME” yang menjadi tokoh utama selain itu juga menjadi tokoh protagonis.
Nedena adalah seorang anak berusia sepuluh tahun yang memilki perilaku ganjil. Perilaku itu disebabkan karena trauma yang dialaminya saat peristiwa kebakaran yang menimpa mamanya. Nedena merasa sangat sedih atas kejadian tersebut. Hingga dalam terapi yang dilakukan oleh Aleda, Nedena berteriak-teriak meminta tolong kepada orang-orang dan Michail untuk menolong mamanya, satu-satunya orang yang dimilikinya.
Nedena merasa sangat bersalah telah membuat mamanya meninggal dunia akibat kebakaran yang disebabkan korek api yang dimainkannya ketika dia berusia 6 tahun. Nedena tidak yakin jika mamanya akan memaafkannya. Hal itu memicu perubahan kejiwaan dalam kepribadian Nedena, yaitu enggan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya dan sangat membenci warna biru. Hingga orang-orang mencemooh Nedena dan menganggapnya gila. Pengalamannya yang tidak menyenangkan itulah yang membuatnya membenci warna biru karena menurutnya warna biru membuat mamanya terbakar. Meskipun demikian, Nedena adalah anak yang baik dan tidak pernah menggagu orang lain secara langsung.  Dia merasa kesepian sehingga kehadiran michail membuatnya merasa tidak sendirian.

2)    Michail
Tokoh utama yang lain adalah Michail walau secara tindakan, tokoh ini sering terlihat pasif. Namun tanpa Michail, Dadaisme akan kehilangan roh kemistikannya.
Michail adalah sesosok makhluk yang menyerupai malaikat, namun dia berwarna hitam tidak putih dan hanya bersayap satu. Dalam novel Dadaisme, Michail diceritakan sebagai sosok yang lahir dari kesedihan seseorang. Karenanya, dia memiliki bola mata yang berwarna ungu. Kebetulan seseorang yang akan meninggallah yang dapat melihat sosoknya. Michail berkomunikasi melalui alam batin manusia. Michail lebih sering diceritakan sebagai sahabat Nedena. Michail menyangi Medena, hingga mereka tidak ingin dipisahkan satu sama lain.
Sebagai sosok yang menyerupai malaikat, Michail juga mendambakan sayapnya berwarna putih, bukan hitam. Michail pernah bercerita kepada Nedena bahwa ada malaikat yang membunuh iblis. Malaikat itu lupa jika malaikat tidak boleh membunuh. Darah iblis yang kotor kemudian mengotori sayap malaikat itu hingga warnanya putih menjadi hitam kelam. Rambut malaikat yang bersinar berubah menjadi hitam sekali, dan pakaiannya yang bersinar berubah menjadi abu-abu karena telah melanggar hukum Tuhan. Bisa jadi Michaillah malaikat yang membunuh iblis itu sebab ada banyak kesamaan fisik Michail dengan malaikat yang diceritakan Michail kepada Nedena.
Selain dengan Nedena, Michail juga dapat berkomunikasi dengan beberapa tokoh. Dalam novel Dadaisme diceritakan tokoh-tokoh yang dapat berkomunikasi dengan Michail akan meninggal.
Tokoh yang dapat melihat dan berkomunikasi dengan Michail adalah Nedena, Flo (pasien Magnos), Yossy, sahabat kekasih Ken (seorang perempuan berkaca mata tebal), Ken, dan Jing. Rata-rata mereka bertemu dengan Michail sesaat sebelum meninggal. Aleda juga sempat melihat Michail, namun dia tidak dapat berkomunikasi dengan Michail. Dalam novel tersebut tidak ada pembunuhan karakter Aleda meskipun Jing berniat untuk membunuhnya. Michail menemui Nedena hanya berupa selintas bayangan. Michail melakukannya hanya untuk memenuhi permintaan Nedena karena Nedena tidak ingin dikatakan pembohong oleh dr.Aleda. Nedena ingin Aleda mengetahui keberadaan Michail. Meskipun Michail adalah sosok imajiner namun dia lebih banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain.
b.    Tokoh Bawahan
1)    Bibi
Bibi adalah seorang perempuan sederhana yang memungut dan mengasuh Nedena sejak musibah kebakaran menimpa rumah Nedena dan merengut nyawa ibunya. Meskipun Bibi bermaksud baik untuk mengasuh Nedena selama empat tahun, namun nampaknya dia melakukannya dengan terpaksa. Apalagi kejanggalan dalam kepribadian Nedena membuatnya bertambah kesal. Bibi selalu bersikap kasar terhadap Nedena. Seperti membentak-bentak Nedena dan menganggap Nedena gila. Selain bersifat kasar, Bibi juga sangat cerewet.

Bibi menganggap Nedena gila dan hanya merepotkan hidupnya. Bibi berharap, dia tidak lagi bersusah payah untuk merawat Nedena. Nampaknya Bibi membawa Nedena ke psikiater juga karena tujuan tertentu bagi dirinya sendiri, bukan sekedar untuk menyembuhan Nedena. Bibi membawa Nedena ke psikiater dengan harapan Nedena dapat menjadi objek penelitian dr.Aleda, sehingga Bibi mendapatkan imbalan dari dr. Aleda.
2)    Aleda
Aleda adalah seorang wanita berpendidikan yang berprofesi sebagai psikiater ternama di sebuah kota. Salah satu pasiennya adalah Nedena. Aleda menjadikan Nedena sebagai objek penelitiannya karena dia tertarik dengan kasus kejiwaan yang dialami Nedena, juga karena iba akan kesebatangkaraan Nedena. Aleda atau dr.Aleda sangat santun dalam bertutur kata. Menurutnya wanita berpendidikan seperti dirinya hendaklah bersikap santun di depan umum meski dalam kondisi apapun.
Aleda tidak suka dengan perasaan romantis, seperti memiliki ikatan batin dengan seorang anak, menangis, bahkan mengungkapkan perasaan cintanya secara langsung. Seperti halnya perasaannya kepada kedua anak tirinya. Dia sangat menyayangi mereka namun dia tidak ingin terikat secara batin dengan anak-anak tirinya itu.
Aleda seorang wanita karier yang sibuk, hingga dia tidak punya banyak waktu untuk keluarganya. Dia juga selalu berusaha tegar meskipun hatinya sedang diselimuti kesedihan, seperti kata hati Tresna terhadap Aleda dalam kutipan di bawah ini.        
Meskipun Aleda selalu menjaga sikapnya di depan umum agar dia nampak sebagai wanita berpendidikan yang santun dan sempurna, namun ternyata Aleda memiliki aib yang dia simpan dengan rapi. Aleda yang telah bersuamikan Asril, mencintai Magnos, kakak kandungnya sendiri. Bahkan mereka telah melakukan hubungan gelap, hingga Aleda melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Jing dari hubungan terlarang tersebut. Tragisnya, Aleda tidak pernah mengakui Jing sebagai anaknya, bahkan Aleda telah melupakan Jing dari kehidupannya. Meski demikian, Aleda masih berhubungan dengan Magnos melalui email.
3)    Asril
Asril memiliki dua orang istri, yaitu Aleda dan Tresna. Karena merasa tidak dapat memberikan keturunan, Aleda menyarankan Asril untuk menikahi Tresna. Meskipun telah memiliki dua orang istri, sesungguhnya Asril masih sangat mencintai Isabela, mantan pacarnya dulu. Di belakang kedua istrinya, Asril kembali menjalin cinta dengan Isabela, bahkan dia menginginkan anak dari rahim mantan kekasihnya itu. Meskipun Asril selingkuh, namun dia juga sayang dengan keluarganya. Bahkan, meskipun dia tahu bahwa dua orang anak yang dilahirkan oleh Tresna bukan dari hasil benih Asril, namun dia tidak berniat untuk membuka aib tersebut. Asril tetap menyangi anak-anak Tresna, dan menganggap mereka sebagai anaknya sendiri.
4)    Tresna
Tresna adalah istri kedua Asril. Tresna diminta Aleda untuk menikah dengan Asril dan memberikan mereka keturunan karena Aleda merasa dirinya tidak dapat memberikan keturunan akibat kangker rahim yang pernah dideritanya. Tresna memiliki dua orang anak, Labay dan Yossy. Kedua anak tersebut adalah hasil hubungan gelap dengan selingkuhannya. Tresna selalu berusaha berbohong untuk menutupi aib itu. Dia tidak menyadari bahwa Aleda dan Asril telah mengetahui kebohongannya. Tresna sangat sensitif dan egois, terlebih semenjak kematian Yossy. Tidak henti-hentinya dia menangis karena berduka atas kematian putrinya itu. Tresna tidak setuju dengan rencana Aleda yang akan mengadopsi Nedena, dengan alasan dia dapat memberikan mereka keturunan lagi. Sikap egoisnya itu pun membuat Aleda dan Asril kesal.

5)    Labay dan Yossy
Yossy dan Labay adalah anak Tresna dari seorang laki-laki selingkuhannya. Meskipun mereka dilahirkan dari rahim yang sama, Yossy dan Labay memiliki kepribadian yang berbeda. Labay, kakak laki-laki Yossy, menderita autis. Labay tidak pernah berhenti meludah, ludahnya selalu berceceran di mana-mana, dia juga sering kencing di mana-mana. Seperti penderita autis pada umumnya, Labay juga tidak suka dengan rangsangan pendengaran (mendengar suara orang tua pun dia bisa menangis) dan sulit berkomunikasi atau ucapan-ucapannya tidak jelas.
Yossy adalah anak perempuan yang lincah dan menyenangkan. Dia sangat menyayangi keluarganya dan orang-orang di sekelilingnya. Begitu juga sebaliknya, keluarga dan orang-orang di sekitarnya juga sangat menyayangi Yossy. Bahkan Michail pun berpendapat bahwa Yossy adalah gadis yang baik.
Yossy memiliki kegemaran yang sama dengan Nedena, yaitu melukis. Jika Nedena membenci warna biru, Yossy sebaliknya, dia sangat menyukai warna biru dan warna-warna cerah lainnya.
Yossy akhirnya meninggal dunia karena mengalami kecelakaan saat pulang sekolah.  Yossy yang baik hati kemudian menjadi peri cantik dan terbang ke surga.
6)    Yusna
Yusna adalah anak Datuk Malinda, seseorang yang berpengaruh di desa Cimpago Pariaman. Yusna dijodohkan dengan Rendi, anak Sutan Bahari, pengusaha Minang yang sukses di Jawa karena keluarga Datuk Malinda telah berhutang budi kepada Sutan Bahari. Yusna tidak menghendaki pernikahan tersebut, lalu dia melarikan diri sehari sebelum pesta pernikahanya berlangsung. Sebenarnya, Yusna kabur dari rumah karena dia telah hamil di luar nikah dengan kekasihnya. Yusna takut aib yang diterima keluarganya jauh lebih besar. Yusna hanya berusaha untuk mengurangi aib di dalam keluarga.
Selang beberapa tahun, Yusna sempat kembali ke rumah dengan membawa anaknya, namun kemudian keluarga besar mengusirnya. Yusna merawat anaknya seorang diri, tanpa suami yang menemaninya, karena kekasihnya tidak bertanggung jawab. Anak Yusna itu adalah Nedena.
Bagaimanapun yusna adalah seorang yang temperamental dalam mendidik anaknya. Setiap kali Nedena melakukan kesalahan, ia sering kali mengacungkan sapu lidi kepada Nedena. Ia cenderung mamarahi dan melarang Nedena berbuat sesuatu tanpa memberitahunya akibat dari perbuatannya nanti. Hingga Nedena tetap memainkan korek api yang ia sukai sehingga kebakaran hebat terjadi. Yusna meninggal dalam musibah kebakaran tersebut.
7)    Isabella
Isabella adalah adik kandung Yusna. Atas kemauannya sendiri, Isabella menggantikan posisi kakaknya sebagai pengantin perempuan dan menikah dengan Rendi, hanya untuk menyelamatkan malu keluarga. Keputusan itu dipilih Isabella meski dengan mengorbankan perasaan cintanya kepada Asril, kekasih hatinya. Lambat laun Isabella mulai mencintai Rendi, meskipun pada akhirnya dia kembali menjalin hubungan dengan Asril.
Isa masih mencintai Asril namun dia tidak mau melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan Asril. Isabella ingin menjaga kesuciannya untuk suaminya, seperti Dewi Sinta pada Rama.
8)    Datuk Malinda
Datuk Malinda adalah seorang tokoh di desa Cimpago Pariaman yang masih memegang teguh adat-istiadatnya. Datuk Malinda merasa sangat terpukul atas tingkah laku Yusna yang kabur dari rumah sehari sebelum hari pernikahannya dengan Rendi tiba. Datuk Malinda memang memaksakan kehendaknya kepada Yusna untuk menikah dengan Rendi, hanya karena dia merasa berhutang budi kepada keluarga Rendi. Datuk Malinda semakin terpukul saat mengetahui Yusna telah hamil di luar nikah. Dia kemudian meninggal dunia karena dirundung kesedihan.
9)    Sutan Bahari
Sutan Bahari adalah seorang pengusaha Minang yang sukses di tanah Jawa. Dia memiliki seorang anak laki-laki bernama Rendi. Meskipun Rendi batal menikah dengan Yusna, namun Sutan Bahari sangat bersyukur karena Isabela, adik Yusna sekaligus pengganti pengantin wanita bagi Rendi ternyata jauh lebih sempurna. Sutan Bahari terharu mendengar pernyataan Isabela yang rela menikah dengan Rendi demi menjaga kehormatan keluarganya.
10) Rendi
Rendi adalah anak Sutan Bahari. Hidup Rendi binal, kelakuannya liar, dia sering bergonta-ganti pasangan bercinta. Rendi juga bersifat congkak dan suka berfoya-foya.
Rendy selalu meremehkan Isabella dalam segala hal, namun lambat laun Rendi semakin yakin bahwa dia sangat mencintai istrinya itu. Bahkan Isabella dapat merubah kelakuan Rendi yang liar.
11) Magnos
Magnos adalah kakak kandung Aleda. Magnos sangat mencintai Aleda, begitu pula sebaliknya. Mereka melakukan hubungan terlarang hingga Aleda melahirkan anak dari benih Magnos. Anak mereka bernama Jing. Magnos juga seorang psikiater, dia memiliki pasien bernama Flo yang kasusnya hampir sama dengan Nedena, pasien Aleda. Setelah Aleda menikah dengan Asril, Magnos hanya dapat berhubungan dengan Aleda melalu email. Magnos memiliki intelektual tinggi, sama seperti Aleda. Hanya saja, Magnos masih memiliki rasa romantik, tidak seperti Aleda. Magnos hanya diceritakan melalui email-email yang dikirimkannya kepada Aleda.
12) Ken
Nama lengkap Ken adalah Ken Pratama Putra. Dia seorang wartawan sebuah media cetak. Ken telah bertunangan dengan seorang gadis yang juga kekasihnya. Waktu Ken banyak tersita untuk pekerjaanya, sehingga tunangannya sering merasa dikesampingkan. Ken sangat menyayangi kekasihnya, namun setelah kehadiran Jing, pemuda keturunan Cina berusia 19 tahun, keadaannya mulai berubah. Ken dan Jing saling jatuh cinta, hingga mereka melakukan hubungan terlarang. Hubungan tersebut membuat Ken frustasi sebab akibat cinta terlarangnya itu kehidupannya menjadi berantakan. Untuk membunuh perasaan cintanya kepada Jing, Ken kemudian membunuh Jing dengan sebilah pisau sebelum akhirnya menghunuskan pisau itu juga ke dadanya sendiri.
13) Jing
Jing adalah anak laki-laki berusia 19 tahun. Dia adalah anak dari Aleda dan Magnos. Jing mencari Aleda dengan tujuan akan membunuhnya, karena ibu kandungnya itu tidak pernah mengakui Jing sebagai anaknya. Jing juga memiliki kepribadian yang unik. Menurutnya, hidup dan mati adalah sebuah pilihan. Itulah sebabnya Jing membunuh Riyanto, bocah kecil yang mencoba untuk bunuh diri.
14) Jo dan Bim
Jo dan Bim memiliki hobbi yang aneh, yakni mereka dapat merasakan suatu kepuasan jika merasa nyawa seseorang ada di tangan mereka. Mereka merasa senang jika melihat manusia yang sedang kesakitan dan meregang nyawa. Keduanya tentu memiliki watak yang egois, karena meskipun mereka bersahabat sejak SMU, namun untuk memenuhi kepuasan dari hobbi yang aneh itu, mereka tega membunuh satu sama lain. Mereka juga pelaku dari peledakan di pusat pertokoan yang memakan banyak korban.
15) Bu Dewi
Bu Dewi adalah guru yang ramah dan cantik. Ia adalah guru di SD tempat Nedena bersekolah. Ia sangat prihatin melihat kondisi Nedena yang tidak wajar. Hingga ia menyarankan Bibi Nedena untuk membawa Nedena kepada seorang psikiater yang ia kenal. Psikiater itu tidak lain adalah dr. Adela.

16) Sahabat tunangan Ken (seorang perempuan berkacamata tebal)
Perempuan berkacamata tebal yang juga sahabat dari kekasih Ken, oleh pengarang tidak disebutkan nama tokohnya. Perempuan tersebut diceritakan telah putus asa dalam menjalani kehidupnya dan dia ingin mati saja. Hal itu karena dirinya tidak memiliki seorang kekasih, bahkan menurutnya sahabatnya mengkhianatinya sebab dia lebih mementingkan kekasihnya ketimbang dirinya. Ketika sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, perempuan itu menabrak seorang laki-laki besar tak dikenalinya yang ternyata adalah Bim, tidak lama kemudian terjadi ledakan di dalam gedung tersebut. Perempuan itu menjadi korban dalam ledakan tersebut. Sesaat sebelum tewas, dia melihat Michail dan bercerita bahwa dia masih ingin hidup, namun terlambat karena api akibat ledakan itu telah membakarnya dan dua ratus korban lainnya di dalam pusat perbelanjaan itu.
3.    Alur dalam Novel Dadaisme
Dadaisme memiliki alur yang serupa dengan skenario film, yaitu berupa penggalan-penggalan cerita yang saling berkaitan. Menurut Saidi, teknik bertutur dalam novel Dadaisme karya Dewi Sartika seperti skenario kebetulan dalam jaring laba-laba atau zig-zag (maju-mundur) layaknya dalam sinetron dan telenovela (http://mediaindo.co.id). Pembaca terus dipaksa mengikuti alur yang rumit pada setiap bagian dalam ruang yang sempit.

4.    Amanat
Dalam sebuah novel tentu terdapat amanat yang disampaikan oleh penulis baik secara tersirat maupun tertulis. Adapun amanat yang dapat saya tangkap dari novel ini lebih tertuju kepada para orang tua untuk tidak mendidik anaknya dengan kekerasan agar anak yang didik tidak tumbuh dengan kejiwaan yang menyimpang. Bagaimanapun juga, kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan dalam proses perkembangan seorang anak.

5.    Latar dalam Novel Dadaisme
Sebuah novel tanpa menyajikan latar yang baik dapat menimbulkan cerita yang kurang menarik karena salah satu fungsi latar adalah untuk mendapatkan nilai-nilai estetis dalam sebuah karya sastra. Latar dalam novel Dadaisme dibedakan menjadi dua, yaitu latar material dan latar sosial.





1)    Latar Material
a.    Tempat
Pada awal penceritaan Dadaisme, nampaknya seperti bercerita tentang sebuah kota metropolis. Namun gambaran kota metropolis itu ternyata hanya sebuah lukisan di rumah Bibi, tempat Nedena tinggal. Tempat yang digunakan sebagai latar cerita dalam Novel Dadaisme adalah ruang kelas, ruang praktik dr.Aleda, rumah sakit, kamar hotel, kuburan, desa Cimpago Pariama, pusat perbelanjaan, restoran, hutan, dan planetarium.
Ruang kelas sebagai latar penceritaan Nedena ketika sedang belajar di sekolah pada bagian satu dan pada bagia dua, ketika bercerita tentang Yossy. Ruang praktik dr.Aleda sebagai setting saat Aleda memberikan terapi kepada Nedena dan tempat Nedena gantung diri. Rumah sakit menjadi latar saat Yossy dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan dan kemudian meninggal. Rumah sakit juga menjadi latar saat Jing kembali bertemu dengan Ken yang akan meliput kasus kematian Riyanto. Kamar hotel adalah tempat Asril dan Isabella berselingkuh. Tresna dan selingkuhannnya pun menggunakan setting kamar hotel untuk berselingkuh. Kuburan adalah setting pemakaman Yossy.
Desa Cimpago Pariama adalah latar tempat tinggal keluarga Datuk Malinda. Pusat perbelanjaan adalah setting peledakan yang dilakukan oleh Bim. Restoran adalah tempat Ken dan Jing berkencan. Hutan adalah latar Bim dan Jo bermain judi nasib. Planetarium adalah latar kencan Asril dan Isabella.
b.    Waktu
Waktu penceritaan dalam novel Dadaisme adalah malam, siang, dan menjelang sore, namun yang mendominasi adalah waktu siang hari. Latar waktu yang digunakan dalam Dadaisme tentu beragam karena novel tersebut memiliki banyak tokoh dan peristiwa yang saling berkaitan.

2.    Latar Sosial
Latar  dalam sebuah novel tidak hanya mencakup tempat atau lokasi terjadinya peristiwa, tetapi menyangkut juga watak kejadian, sistem maupun norma-norma yang berlaku pada suatu masyarakat tertentu. Latar sosial yang dapat diungkap adalah pengakuan Aleda yang harus bersikap santun kepada orang lain, karena dia seorang wanita berpendidikan. Bibi yang mengasuh Nedena tidak mampu membiayai pengobatan Nedena karena dia mengaku orang miskin. Ken membunuh Jing karena dia malu jika orang-orang tahu bahwa dirinya seorang gay. Datuk Malinda malu dengan aib keluarganya, karena dia adalah seseorang yang berpengaruh di desanya. Sutan Bahari dapat melakukan apa saja karena dia seorang pengusaha yang memiliki banyak uang. Sutan bahari juga menginginkan menantu yang berdarah Minang. Bahasa daerah yang digunakan dalam beberapa percakapan juga menguatkan latar sosial adat Minang.
B.   Unsur Ekstrinsik
1.    Dadaisme dan Pengarangnya
Berbeda dengan karya-karya yang dihasilkan pengarang-pengarang Minangkabau yang lain, yang lebih memiliki gambaran eksplisit tentang Minangkabau, Dadaisme mengangkat persoalan yang berbeda. Kemungkinan penyebab utama dari perbedaan ini adalah latar masa kecilnya. Dewi Sartika berdarah Minang, tetapi lahir di Cirebon dan selama hidupnya dilalui sebagai orang Minangkabau perantauan. Pola pendidikan dalam keluarga Minang yang matrilineal dan komunal biasanya tidak pupus setelah berada di wilayah rantau. Mereka bisa bergaul dengan semua teman dari suku bangsa yang lain, tetapi akan selalu diingatkan bahwa dia orang Minang yang harus menjaga diri dan nama baik.
Secara sosiologis dia dapat berada di mana saja, dan mampu beradaptasi dengan baik, tetapi mereka akan tetap mempertahankan identitas keminangkabauannya secara ideologis. Perkawinan Rendi dengan Issabella yang dimulai dengan perasaan dendam dan muak ternyata akhirnya membuat Rendi cukup bahagia, bisa mencintai istri yang hanya ditemuinya di pelaminan, “Perempuan yang kukenal sebelumnya tak satu pun yang kucintai,” kata Rendi. Hal ini dapat dilihat sebagai keberpihakan pandangan pengarang terhadap sesuatu yang diidealkan dalam adat.

Dualitas dunia rantau Dewi Sartika yang secara sosiologis berhubungan dengan pluralitas budaya dan pemikiran, dalam perkembangan peradaban yang mengglobal dan aneka warna persilangan budaya, di sisi lain berhadapan dengan ideologi Minangkabau yang dipandang wingit. Perantauan menjadi batu ujian membentuk diri menjadi “urang nan sabana urang” yang dalam bahasa Pak Harto berarti menjadi pembentukan manusia (Minangkabau) seutuhnya.

2.    Dadaisme dan Sistem Kultural Zamannya
Globalisasi ekonomi dan sistem informasi yang terbuka untuk diakses manusia paling primitif pun memberi peluang terhadap terjadinya perubahan adat dan sistem sosial tradisional di Minangkabau. Menjamurnya sarana hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan sebagaimana yang tumbuh di kota-kota lain memberikan perantauan baru bagi orang Minangkabau walaupun tidak berpindah tempat. Pergaulan bebas dan prostitusi sudah menjadi budaya baru, dan kehamilan Yusna dapat dilihat sebagai rembesan peradaban baru yang sudah menjalar mencapai dunia tradisionalis atau dapat dikatakan sebaliknya, dunia tradisional telah dihisap masuk ke dalam budaya global.
Pengaruh budaya global yang kapitalistik itu menurut hipotesis Goldmann melahirkan kebudayaan yang termediasi atau terdegradasi. Hubungan yang pada awalnya dilandasi nilai guna berubah menjadi nilai tukar. Walaupun demikian, nilai otentik yang didasarkan pada nilai guna itu sesungguhnya masih tetap melekat dalam diri manusia. Perubahan nilai itu dalam novel secara eksplisit dapat digambarkan oleh perjodohan Yusna dan Rendi yang didasarkan adanya pertolongan finansial yang diberikan Sutan Bahari, ayah Rendi kepada keluarga Yusna. Sutan Bahari menginginkan anaknya yang terbiasa hidup di rantau dan tidak mengenal tradisi Minangkabau menikah dengan gadis sekampung, bukan gadis lain suku. Ayah Yusna tidak dapat menolak ketika Sutan Bahari memintanya untuk melamarkan Yusna kepada persukuan istrinya.
Alasan Sutan Bahari menjodohkan anaknya Rendi dengan gadis sekampung dengan menggunakan kekuasaan uangnya di satu sisi dapat dilihat sebagai bertahannya nilai otentik dalam dirinya. Sutan Bahari melihat nilai ideal dalam relasi antarorang sekampung di tengah sistem nilai yang berubah, di tengah menggejalanya peradaban baru bebas nilai, yang berusaha dihindarkan dari pilihan hidup Rendi, generasi penerus Sutan Bahari.
Rendi yang produk metropolitan, dikembalikan ke dalam lingkaran akar tradisinya dengan menikahkannya dengan Yusna. Akan tetapi, Yusna ternyata sudah menjadi gambaran kebudayaan yang terdegradasi. Issabella menggantikan posisi Yusna, menerima Rendi sebagai suaminya. Hal ini menggambarkan terjadinya mediasi dalam diri Issabela yang murni tradisional dengan berpisah dari Asril yang juga tradisional, dan menerima Rendi. Mediasi terjadi dalam diri Issabella dan Rendi.

3.    Dadaisme dan Sistem Sosial Zamannya
Sebagaimana yang sudah dikemukakan pada pendahuluan, Dadaisme lahir sesudah pecahnya narasi besar peradaban Barat yang universal dan manjadi acuan tunggal. Dadaisme hadir di tengah dunia yang majemuk dan menjauhi poros, melepaskan diri sebagai manusia dari latar budaya dan spiritualitasnya yang asali. Manusia-manusia yang dalam budaya universal dianggap sebagai objek, kemudian merebut tempat dalam paradigma baru itu menjadi subjek. Semua mendapat tempat dan semua bisa diakui. Tidak ada kebenaran tunggal. Stratifikasi didasarkan pada kemampuan kelompok dan individu merebut jaringan informasi dan kapital jadi unsur penting untuk semua itu.
Dadaisme cukup mahir dalam menjelaskan semua fenomena itu. Seperti merangkai kembali perjalanan sejarah perkembangan nalar manusia, dari pantheisme, menuju scholastik dan mencapai eksistensialisme yang kemudian memecah menjadi atheisme dan parenial. Dalam melihat sistem sosial yang berkembang dengan cara demikian, tokoh Aleda dan Magnos dapat dijadikan penanda. Mereka berdua warga gereja, anak-anak Allah menurut kepercayaan agamanya yang menjadi pendurhaka. Menjalani hubungan sedarah yang terlarang. Mereka berdua masuk ke dunia scholastik, mempertanyakan keputusan-keputusan Tuhan dan merasa Tuhan sudah berlaku tak adil pada mereka dan memutuskan untuk meninggalkan Tuhan.
Hubungan sedarah yang terjadi antara Aleda dan Magnos dapat dilihat sebagai simbol dunia modern yang narsistik, menganggap diri yang terbaik dan jatuh cinta pada diri sendiri. Anak haram yang lahir kembar adalah para schizoprenik yang menurut Piliang18 anti komunikasi dan antisosial. Bagi schizoprenik, mengembara dan berpindah tempat kemana saja sejauh ia bisa, telah mencemplungkannya semakin jauh ke dalam deteritorialisasi, dunia yang di dalamnya tidak ada kepastian posisi ideologis diri.
Di dalam pengembaraan pluralnya, schizoprenik membiarkan dirinya tenggelam dalam keterpecahan personal, ia pria atau wanita, namun tidak mau menjadi salah satunya secara pasti, menjadi malaikat dan setan sekaligus. Ia menuju poros penghancuran, penghancuran kepercayaan dan makna representasi, serta pertandaan. Ia menghancurkan dinding benteng hukum dan konvensi sosial yang menyebabkan arus nafsu (libido) mengalir dengan bebas.
Percintaan sejenis antara Jing dan Ken menggambarkan libido yang tidak berimbang mengingkari kebenaran pandangan Freud yang menganggap libido dalam diri manusia membangkitkan semangat untuk bertahan hidup, dan semangat penghancuran. Hubungan seksual sebagai libido pertahanan (melanjutkan hidup melalui keturunan), dan membunuh sebagai libido penghancuran.
Hubungan sejenis Jing dan Ken adalah hubungan hampa dan memang diakhiri penghancuran mereka berdua. Bim saudara kembar Jing juga menggambarkan perilaku schizofrenik yang sama, melakukan pembunuhan masal dengan meledakkan bom di ruang-ruang publik yang ramai. Mereka berdua yang lahir sebagai generasi scholastic yang skizoprenik, kehilangan aspek religiositas dan memperhambakan diri pada logika semata, menuju penghancuran total nilai-nilai.
Aleda dan Magnos menuju arah yang berlawanan dalam pencarian eksistensialnya. Aleida memilih jalan parenial, menuju poros induk budaya yang sudah lama ditinggalkan, sementara Magnos terjebak dalam atheisme, pembendaan segala nilai-nilai. Di sini Dewi Sartika menunjukkan keberpihakannya.

4.    Dadaisme dan Kesusastraan Indonesia
Penulisan Dadaisme berbarengan dengan bangkitnya kaum perempuan “meratui” lomba-lomba penulisan dan dunia penerbitan. Dimulai kemenangan Saman karya Ayu Utami yang me-nimbulkan kontroversi dalam pembaharuan penulisan yang dilakukannya. Kemudian muncul kelompok tandingan dua saudara Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia dan diikuti Abidah el-Khalieqy dengan warna islami yang kental. Mereka tergabung dalam Forum Lingkar Pena.
Saman yang menjadi pembuka jalan benar-benar mewakili suara zamannya, penuh kritik, pemberontakan terhadap nilai yang mapan dan mencari tawaran dunia yang mungkin, dunia baru yang lebih melegakan karena terbebas dari belenggu nilai-nilai tradisional. Nada yang sama mengisi karya-karya Dee dan Jenar Mahesa Ayu. Berbeda dengan Ayu Utami karya-karya Asma Nadia mengacu kepada pengukuhan nilai-nilai, kepercayaan keagamaan, karya yang islami, dengan ketaatan pada ketentuan hukum agama.
Sebagaimana kemenduaan orang Minangkabau, Dewi Sartika memandang persoalan bukan dalam titik yang ekstrim. Gambaran tragis manusia postmodern yang mengalami berbagai penyakit kejiwaan karena terlepas dari poros menjadi persoalan yang mendapat perhatiannya. Mereka mengambang tanpa grafitasi pada satu orbit, mengalami kegamangan dan keputusasaan. Dalam pandangannya sebagai manusia Minangkabau, tokohnya adalah para perantau yang tidak mengenal jalan pulang.
Pengembaraan ide Dewi Sartika dalam Dadaisme dapat dikatakan melampaui Saman. Saman baru sampai dalam tingkat melepaskan diri dari jerat tradisi dan agama, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Marah Rusli dalam konteks lain pada tahun duapuluhan. Sementara Dadaisme membentuk kesadaran yang khas perantau Minang sebenarnya, merantaulah ke negeri yang jauh, asal tahu jalan pulang.