Tugas Introduction to
Literature
Struktur Novel Dadaisme
Karya
Dewi Sartika
Oleh :
Nur Rahmawati
Judul : Dadaisme
Pengarang : Dewi Sartika
Penerbit : Matahari, 2004
Didigitalkan : 19 Mei 2008
ISBN : 9793618043,
9789793618043
Tebal Buku : 234 halaman
Sinopsis :
Novel Dadaisme karya Dewi Sartika
menceritakan tokoh-tokoh yang unik, dengan benang merah perselingkuhan dan
anak-anak yang lahir darinya. Tiap tokohnya mempunyai konflik yang sedemikian
rumit, namun mereka mempunyai cara sendiri untuk menyelesaikan permasalahannya
masing-masing, misalnya dengan mengakhiri hidup orang lain atau dengan bunuh
diri. Kekacauan tokoh dan alur dalam novel ini pada hakikatnya merupakan
gambaran manusia masa kini, yakni tentang orang-orang yang sibuk menghadapi
berbagai masalah tanpa sempat mendalami masing-masing masalahnya.
Tokoh utama bernama Nedena, anak
berumur 10 tahun yang dianggap gila akan sikapnya yang aneh untuk anak
seusianya. Sejak lahir Nedena tidak mempunyai ayah sedangkan Ibunya telah
meninggal dunia tetapi ia mempunyai bibi yang bertanggung jawab mengasuhnya..
Ia sangat pendiam dan tidak dapat berbicara, bukan karena dia bisu namun
kegembiraannya seperti tertelan oleh waktu. Ia sangat membenci warna biru,
bahkan ia tidak tahu kenapa. Ia beranggapan bahwa warna biru itu warna yang
jelek, sehingga setiap kali ia menggambar langit, ia mewarnainya dengan beragam
warna kecuali warna biru. Setiap ia merasa kesepian, akan datang seorang
malaikat kecil bernama Michail yang mempunyai satu sayap hitam tidak seperti
malaikat pada umumnya yang memiliki dua sayap putih.
Malaikat itu seperti gambaran
imajinasi antara ada dan tiada yang selalu datang mememani orang yang sedang
dalam kesedihan. Karena dianggap gila dan aneh oleh orang-orang termasuk bibi
dan gurunya di sekolah, ia dibawa dan di rawat oleh seorang Psikater bernama
Dr. Aleda. Mereka mengharapkan agar Nedena kembali normal. Kebetulan Dr. Aleda
tertarik untuk menyelidiki sikap aneh Nedena tersebut. Selama Dirawat, Michail
selalu menemani Nedena kemanapun. Suatu hari Nedena menjalani terapi hipnosa,
ia ditanya-tanya tentang masa lalunya, tetapi ia tidak ingat. Bahkan ingatannya
seperti pembekuan waktu. Ketika ia di minta untuk menggambar kesukaannya, ia
menggambar anak kecil dengan satu sayap hitam menyerupai malaikat.
Selain Nedena, hal serupa juga
dialami seorang anak bernama Flo yang beusia 14 tahun. Gambar kesukaannya pun menyerupai
gambaran yang digambar Nedena. Ia juga bersikap aneh, namun sikap anehnya tidak
menonjol sehingga ia seperti anak normal lainnya. Suatu malam, ia membantai
keluarganya, mulai dari ayah, ibu, kakak, dan adiknya. Setelah ia membantai
keluarganya ia mengundang beberapa teman kelasnya ke rumahnya dengan alasan ada
sebuah pesta. Anehnya ia tidak menyadari bahwa ia telah membunuh keluarganya.
Bahkan saat ditanya tentang keluarganya, ia menjawab bahwa keluarganya sedang
dirumah dan masih hidup.
Misteri terpecahkan saat Dr. Aleda
kembali melakukan hipnosa kepada Nedena, mula-mula Nedena menyebut dan
memanggil-manggil nama “Michail”. Dia mulai bicara walau dalam keadaan tidak
sadar. Lambat laun ia teringat masa lalunya yang entah berberapa tahun yang
lalu, tampaknya saat Nedena berusia 6 tahun. Tanpa sadar ia menceritakan
kejadian-kejadian yang mengunci pita suaranya. Pada saat itu Nedena ingin
memiliki mainan yang bewarna biru, namun ibunya malah memarahinya. Nedena ingin
main api yang baru menyala yang bewarna biru, tapi api itu membesar dan Nedena
lari keluar rumah karena Nedena takut dimarahi ibunya. Kemudian api itu
membakar rumah Nedena sedangkan Ibunya masih tertidur didalam rumah. Nedena
merasa ia yang telah membuat ibunya meninggal. Saat ia kembali ke alam
sadarnya, ia seperti kebingungan dan menangis.
Lama-kelamaan Dr.Aleda menyukai anak
manis ini, ia ingin mengadopsi Nedena. Terlebih dahulu ia meminta izin pada
suami dan madunya, dan merekapun setuju. Aleda sangat senang, ia ingin segera
memberi tahu dan menjemput Nedena. Saat ia dalam perjalanan kembali ke kantor
psikaternya, sepintas ia melihat sosok yang hanya ada dalam bayangan dan
gambar-gambar Nedena, Aleda tampak bingung dengan apa yang dilihatnya. Saat ia
kembali ke kantornya, perasaannya sangat tidak enak. Saat ia sampai di
ruangannya, ia menjerit pilu bertapa tragisnya melihat Nedena yang
menggantungkan leher kecilnya dengan seutas tali di ruang praktiknya.
Biografi Dewi Sartika Pengarang
Novel Dadaisme
Meskipun dia lahir bukan dari keluarga
seni tapi kegemaran menulisnya sudah terlihat sejak dia duduk dibangku SD.
Waktu SMP pun ia sudah menulis dan dimuat di majalah Bobo. Sehingga
diapun mulai serius menulis diwaktu SMA dan lahirlah cerpen remaja pertamanya
berjudul Kakaku Arjuna yang dimuat di majalah sekolah dan menjadi
pilihan favorit redaksi saat itu. Dewi kemudian banyak menulis cerpen remaja,
yang pop, namun tidak pernah ada yang dimuat. Sehingga malas untuk menghitung
cepen yang ditolak itu. Dewi sempat putus asa, namun itu tidak berlangsung lama
karena dia sadar kalau dia mencintai menulis dan tidak bisa berhenti. Ia
menemukan cara untuk menikmati penolakan dengan memahami emosi dan hal inilah
yang mendorong emosinya untuk menulis dua kali lebih besar. Dewi menyadari
bahwa ia sangat lemah dalam membangun penokohan dalam bentuk cerpen. Akhirnya,
ketika Dewi semester tiga, ia memutuskan untuk menulis novel. Dewi tertarik
akan adanya dunia halusinasi atau autis dan karena ketertarika ini munculah
novel pertamanya Dadaisme pada tahun 2003, dan novel inilah yang
menjadikan dewi sebagai salah satu novelis yang diakui, karena karyanya yang
dianggap luar biasa.
Dadaisme ini adalah pemenang pertama
Sayembara Novel 2003 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Meskipun
kehadiran Dadaisme ini mendapat kritikan dari teman-temanya dan beberapa
orang karena dirasakan untuk tidak layak terbit, dalam hal ini Dewi Sartika
menyadari kalau sebagai manusia dia penuh kekurangan. Dalam hal ini semangat
dewi tidak putus, dan ini terbukti dengan hadirnya karya-karyanya seperti Natsuka
(2004), dan Empat Cara Menjadi Cantik (2004).
ANALISIS STRUKTURAL NOVEL DADAISME
A.
Unsur Intrinsik
1. Tema
Novel Dadaisme
mengemukakan masalah kehidupan manusia sekarang, atau gambaran manusia masa
kini, masa dimana masing-masing orang sibuk menghadapi berbagai masalah tanpa sempat
mendalami msing-masing masalah. Masalah ini antara lain tentang halusinasi,
kematian, perjodohan, dan berbakti pada orang tua.
2.
Tokoh dan
Penokohan
a.
Tokoh Sentral
1) Tokoh Nedena
Tokoh Nedena, dalam
cerita digambarkan sebagai gadis cilik yang polos yang hobi menggambar.
Dalam novel “DADAISME” yang menjadi tokoh utama selain itu juga menjadi tokoh
protagonis.
Nedena
adalah seorang anak berusia sepuluh tahun yang memilki perilaku ganjil. Perilaku
itu disebabkan karena trauma yang dialaminya saat peristiwa kebakaran yang
menimpa mamanya. Nedena merasa sangat sedih atas kejadian tersebut. Hingga
dalam terapi yang dilakukan oleh Aleda, Nedena berteriak-teriak meminta tolong
kepada orang-orang dan Michail untuk menolong mamanya, satu-satunya orang yang
dimilikinya.
Nedena
merasa sangat bersalah telah membuat mamanya meninggal dunia akibat kebakaran
yang disebabkan korek api yang dimainkannya ketika dia berusia 6 tahun. Nedena
tidak yakin jika mamanya akan memaafkannya. Hal itu memicu perubahan kejiwaan
dalam kepribadian Nedena, yaitu enggan berkomunikasi dengan orang-orang di
sekitarnya dan sangat membenci warna biru. Hingga orang-orang mencemooh Nedena
dan menganggapnya gila. Pengalamannya yang tidak menyenangkan itulah yang
membuatnya membenci warna biru karena menurutnya warna biru membuat mamanya
terbakar. Meskipun demikian, Nedena adalah anak yang baik dan tidak pernah
menggagu orang lain secara langsung. Dia
merasa kesepian sehingga kehadiran michail membuatnya merasa tidak sendirian.
2) Michail
Tokoh utama yang lain
adalah Michail walau secara tindakan, tokoh ini sering terlihat pasif.
Namun tanpa Michail, Dadaisme akan kehilangan roh kemistikannya.
Michail adalah sesosok
makhluk yang menyerupai malaikat, namun dia berwarna hitam tidak putih dan
hanya bersayap satu. Dalam novel Dadaisme, Michail diceritakan sebagai
sosok yang lahir dari kesedihan seseorang. Karenanya, dia memiliki bola mata
yang berwarna ungu. Kebetulan seseorang yang akan meninggallah yang dapat
melihat sosoknya. Michail berkomunikasi melalui alam batin manusia. Michail
lebih sering diceritakan sebagai sahabat Nedena. Michail menyangi Medena,
hingga mereka tidak ingin dipisahkan satu sama lain.
Sebagai sosok yang
menyerupai malaikat, Michail juga mendambakan sayapnya berwarna putih, bukan
hitam. Michail pernah bercerita kepada Nedena bahwa ada malaikat yang membunuh
iblis. Malaikat itu lupa jika malaikat tidak boleh membunuh. Darah iblis yang
kotor kemudian mengotori sayap malaikat itu hingga warnanya putih menjadi hitam
kelam. Rambut malaikat yang bersinar berubah menjadi hitam sekali, dan
pakaiannya yang bersinar berubah menjadi abu-abu karena telah melanggar hukum
Tuhan. Bisa jadi Michaillah malaikat yang membunuh iblis itu sebab ada banyak
kesamaan fisik Michail dengan malaikat yang diceritakan Michail kepada Nedena.
Selain dengan Nedena,
Michail juga dapat berkomunikasi dengan beberapa tokoh. Dalam novel Dadaisme
diceritakan tokoh-tokoh yang dapat berkomunikasi dengan Michail akan
meninggal.
Tokoh yang dapat melihat
dan berkomunikasi dengan Michail adalah Nedena, Flo (pasien Magnos), Yossy,
sahabat kekasih Ken (seorang perempuan berkaca mata tebal), Ken, dan Jing.
Rata-rata mereka bertemu dengan Michail sesaat sebelum meninggal. Aleda juga
sempat melihat Michail, namun dia tidak dapat berkomunikasi dengan Michail.
Dalam novel tersebut tidak ada pembunuhan karakter Aleda meskipun Jing berniat
untuk membunuhnya. Michail menemui Nedena hanya berupa selintas bayangan.
Michail melakukannya hanya untuk memenuhi permintaan Nedena karena Nedena tidak
ingin dikatakan pembohong oleh dr.Aleda. Nedena ingin Aleda mengetahui
keberadaan Michail. Meskipun Michail adalah sosok imajiner namun dia lebih
banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh lain.
b. Tokoh
Bawahan
1) Bibi
Bibi
adalah seorang perempuan sederhana yang memungut dan mengasuh Nedena sejak
musibah kebakaran menimpa rumah Nedena dan merengut nyawa ibunya. Meskipun Bibi
bermaksud baik untuk mengasuh Nedena selama empat tahun, namun nampaknya dia
melakukannya dengan terpaksa. Apalagi kejanggalan dalam kepribadian Nedena
membuatnya bertambah kesal. Bibi selalu bersikap kasar terhadap Nedena. Seperti
membentak-bentak Nedena dan menganggap Nedena gila. Selain bersifat kasar, Bibi
juga sangat cerewet.
Bibi
menganggap Nedena gila dan hanya merepotkan hidupnya. Bibi berharap, dia tidak
lagi bersusah payah untuk merawat Nedena. Nampaknya Bibi membawa Nedena ke
psikiater juga karena tujuan tertentu bagi dirinya sendiri, bukan sekedar untuk
menyembuhan Nedena. Bibi membawa Nedena ke psikiater dengan harapan Nedena dapat
menjadi objek penelitian dr.Aleda, sehingga Bibi mendapatkan imbalan dari dr.
Aleda.
2)
Aleda
Aleda adalah
seorang wanita berpendidikan yang berprofesi sebagai psikiater ternama di
sebuah kota. Salah satu pasiennya adalah Nedena. Aleda menjadikan Nedena
sebagai objek penelitiannya karena dia tertarik dengan kasus kejiwaan yang
dialami Nedena, juga karena iba akan kesebatangkaraan Nedena. Aleda atau
dr.Aleda sangat santun dalam bertutur kata. Menurutnya wanita berpendidikan
seperti dirinya hendaklah bersikap santun di depan umum meski dalam kondisi
apapun.
Aleda tidak suka dengan
perasaan romantis, seperti memiliki ikatan batin dengan seorang anak, menangis,
bahkan mengungkapkan perasaan cintanya secara langsung. Seperti halnya
perasaannya kepada kedua anak tirinya. Dia sangat menyayangi mereka namun dia
tidak ingin terikat secara batin dengan anak-anak tirinya itu.
Aleda seorang wanita
karier yang sibuk, hingga dia tidak punya banyak waktu untuk keluarganya. Dia juga
selalu berusaha tegar meskipun hatinya sedang diselimuti kesedihan, seperti
kata hati Tresna terhadap Aleda dalam kutipan di bawah ini.
Meskipun Aleda selalu
menjaga sikapnya di depan umum agar dia nampak sebagai wanita berpendidikan
yang santun dan sempurna, namun ternyata Aleda memiliki aib yang dia simpan
dengan rapi. Aleda yang telah bersuamikan Asril, mencintai Magnos, kakak
kandungnya sendiri. Bahkan mereka telah melakukan hubungan gelap, hingga Aleda
melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Jing dari hubungan terlarang
tersebut. Tragisnya, Aleda tidak pernah mengakui Jing sebagai anaknya, bahkan
Aleda telah melupakan Jing dari kehidupannya. Meski demikian, Aleda masih
berhubungan dengan Magnos melalui email.
3)
Asril
Asril memiliki dua orang
istri, yaitu Aleda dan Tresna. Karena merasa tidak dapat memberikan keturunan,
Aleda menyarankan Asril untuk menikahi Tresna. Meskipun telah memiliki dua
orang istri, sesungguhnya Asril masih sangat mencintai Isabela, mantan pacarnya
dulu. Di belakang kedua istrinya, Asril kembali menjalin cinta dengan Isabela,
bahkan dia menginginkan anak dari rahim mantan kekasihnya itu. Meskipun Asril
selingkuh, namun dia juga sayang dengan keluarganya. Bahkan, meskipun dia tahu
bahwa dua orang anak yang dilahirkan oleh Tresna bukan dari hasil benih Asril,
namun dia tidak berniat untuk membuka aib tersebut. Asril tetap menyangi
anak-anak Tresna, dan menganggap mereka sebagai anaknya sendiri.
4)
Tresna
Tresna
adalah istri kedua Asril. Tresna diminta Aleda untuk menikah dengan Asril dan
memberikan mereka keturunan karena Aleda merasa dirinya tidak dapat memberikan
keturunan akibat kangker rahim yang pernah dideritanya. Tresna memiliki dua
orang anak, Labay dan Yossy. Kedua anak tersebut adalah hasil hubungan gelap
dengan selingkuhannya. Tresna selalu berusaha berbohong untuk menutupi aib itu.
Dia tidak menyadari bahwa Aleda dan Asril telah mengetahui kebohongannya.
Tresna sangat sensitif dan egois, terlebih semenjak kematian Yossy. Tidak
henti-hentinya dia menangis karena berduka atas kematian putrinya itu. Tresna
tidak setuju dengan rencana Aleda yang akan mengadopsi Nedena, dengan alasan
dia dapat memberikan mereka keturunan lagi. Sikap egoisnya itu pun membuat
Aleda dan Asril kesal.
5)
Labay
dan Yossy
Yossy dan Labay adalah anak Tresna
dari seorang laki-laki selingkuhannya. Meskipun mereka dilahirkan dari rahim
yang sama, Yossy dan Labay memiliki kepribadian yang berbeda. Labay, kakak
laki-laki Yossy, menderita autis. Labay tidak pernah berhenti meludah, ludahnya
selalu berceceran di mana-mana, dia juga sering kencing di mana-mana. Seperti
penderita autis pada umumnya, Labay juga tidak suka dengan rangsangan
pendengaran (mendengar suara orang tua pun dia bisa menangis) dan sulit
berkomunikasi atau ucapan-ucapannya tidak jelas.
Yossy adalah anak
perempuan yang lincah dan menyenangkan. Dia sangat menyayangi keluarganya dan
orang-orang di sekelilingnya. Begitu juga sebaliknya, keluarga dan orang-orang
di sekitarnya juga sangat menyayangi Yossy. Bahkan Michail pun berpendapat
bahwa Yossy adalah gadis yang baik.
Yossy memiliki kegemaran
yang sama dengan Nedena, yaitu melukis. Jika Nedena membenci warna biru, Yossy
sebaliknya, dia sangat menyukai warna biru dan warna-warna cerah lainnya.
Yossy akhirnya meninggal
dunia karena mengalami kecelakaan saat pulang sekolah. Yossy yang baik hati kemudian menjadi peri
cantik dan terbang ke surga.
6)
Yusna
Yusna adalah anak Datuk
Malinda, seseorang yang berpengaruh di desa Cimpago Pariaman. Yusna dijodohkan
dengan Rendi, anak Sutan Bahari, pengusaha Minang yang sukses di Jawa karena
keluarga Datuk Malinda telah berhutang budi kepada Sutan Bahari. Yusna tidak
menghendaki pernikahan tersebut, lalu dia melarikan diri sehari sebelum pesta
pernikahanya berlangsung. Sebenarnya, Yusna kabur dari rumah karena dia telah
hamil di luar nikah dengan kekasihnya. Yusna takut aib yang diterima
keluarganya jauh lebih besar. Yusna hanya berusaha untuk mengurangi aib di
dalam keluarga.
Selang beberapa tahun,
Yusna sempat kembali ke rumah dengan membawa anaknya, namun kemudian keluarga
besar mengusirnya. Yusna merawat anaknya seorang diri, tanpa suami yang
menemaninya, karena kekasihnya tidak bertanggung jawab. Anak Yusna itu adalah
Nedena.
Bagaimanapun yusna adalah
seorang yang temperamental dalam mendidik anaknya. Setiap kali Nedena melakukan
kesalahan, ia sering kali mengacungkan sapu lidi kepada Nedena. Ia cenderung
mamarahi dan melarang Nedena berbuat sesuatu tanpa memberitahunya akibat dari
perbuatannya nanti. Hingga Nedena tetap memainkan korek api yang ia sukai
sehingga kebakaran hebat terjadi. Yusna meninggal dalam musibah kebakaran tersebut.
7)
Isabella
Isabella adalah adik
kandung Yusna. Atas kemauannya sendiri, Isabella menggantikan posisi kakaknya
sebagai pengantin perempuan dan menikah dengan Rendi, hanya untuk menyelamatkan
malu keluarga. Keputusan itu dipilih Isabella meski dengan mengorbankan
perasaan cintanya kepada Asril, kekasih hatinya. Lambat laun Isabella mulai
mencintai Rendi, meskipun pada akhirnya dia kembali menjalin hubungan dengan
Asril.
Isa masih mencintai Asril
namun dia tidak mau melakukan hubungan intim layaknya suami istri dengan Asril.
Isabella ingin menjaga kesuciannya untuk suaminya, seperti Dewi Sinta pada Rama.
8)
Datuk
Malinda
Datuk Malinda adalah
seorang tokoh di desa Cimpago Pariaman yang masih memegang teguh
adat-istiadatnya. Datuk Malinda merasa sangat terpukul atas tingkah laku Yusna
yang kabur dari rumah sehari sebelum hari pernikahannya dengan Rendi tiba.
Datuk Malinda memang memaksakan kehendaknya kepada Yusna untuk menikah dengan
Rendi, hanya karena dia merasa berhutang budi kepada keluarga Rendi. Datuk
Malinda semakin terpukul saat mengetahui Yusna telah hamil di luar nikah. Dia
kemudian meninggal dunia karena dirundung kesedihan.
9)
Sutan
Bahari
Sutan Bahari adalah
seorang pengusaha Minang yang sukses di tanah Jawa. Dia memiliki seorang anak
laki-laki bernama Rendi. Meskipun Rendi batal menikah dengan Yusna, namun Sutan
Bahari sangat bersyukur karena Isabela, adik Yusna sekaligus pengganti
pengantin wanita bagi Rendi ternyata jauh lebih sempurna. Sutan Bahari terharu
mendengar pernyataan Isabela yang rela menikah dengan Rendi demi menjaga
kehormatan keluarganya.
10) Rendi
Rendi adalah anak Sutan
Bahari. Hidup Rendi binal, kelakuannya liar, dia sering bergonta-ganti pasangan
bercinta. Rendi juga bersifat congkak dan suka berfoya-foya.
Rendy selalu meremehkan
Isabella dalam segala hal, namun lambat laun Rendi semakin yakin bahwa dia
sangat mencintai istrinya itu. Bahkan Isabella dapat merubah kelakuan Rendi
yang liar.
11) Magnos
Magnos adalah kakak
kandung Aleda. Magnos sangat mencintai Aleda, begitu pula sebaliknya. Mereka
melakukan hubungan terlarang hingga Aleda melahirkan anak dari benih Magnos.
Anak mereka bernama Jing. Magnos juga seorang psikiater, dia memiliki pasien
bernama Flo yang kasusnya hampir sama dengan Nedena, pasien Aleda. Setelah
Aleda menikah dengan Asril, Magnos hanya dapat berhubungan dengan Aleda melalu
email. Magnos memiliki intelektual tinggi, sama seperti Aleda. Hanya saja,
Magnos masih memiliki rasa romantik, tidak seperti Aleda. Magnos hanya
diceritakan melalui email-email yang dikirimkannya kepada Aleda.
12) Ken
Nama lengkap Ken adalah
Ken Pratama Putra. Dia seorang wartawan sebuah media cetak. Ken telah
bertunangan dengan seorang gadis yang juga kekasihnya. Waktu Ken banyak tersita
untuk pekerjaanya, sehingga tunangannya sering merasa dikesampingkan. Ken
sangat menyayangi kekasihnya, namun setelah kehadiran Jing, pemuda keturunan
Cina berusia 19 tahun, keadaannya mulai berubah. Ken dan Jing saling jatuh
cinta, hingga mereka melakukan hubungan terlarang. Hubungan tersebut membuat
Ken frustasi sebab akibat cinta terlarangnya itu kehidupannya menjadi
berantakan. Untuk membunuh perasaan cintanya kepada Jing, Ken kemudian membunuh
Jing dengan sebilah pisau sebelum akhirnya menghunuskan pisau itu juga ke
dadanya sendiri.
13) Jing
Jing adalah anak laki-laki
berusia 19 tahun. Dia adalah anak dari Aleda dan Magnos. Jing mencari Aleda
dengan tujuan akan membunuhnya, karena ibu kandungnya itu tidak pernah mengakui
Jing sebagai anaknya. Jing juga memiliki kepribadian yang unik. Menurutnya,
hidup dan mati adalah sebuah pilihan. Itulah sebabnya Jing membunuh Riyanto,
bocah kecil yang mencoba untuk bunuh diri.
14) Jo dan Bim
Jo dan Bim memiliki hobbi
yang aneh, yakni mereka dapat merasakan suatu kepuasan jika merasa nyawa
seseorang ada di tangan mereka. Mereka merasa senang jika melihat manusia yang
sedang kesakitan dan meregang nyawa. Keduanya tentu memiliki watak yang egois,
karena meskipun mereka bersahabat sejak SMU, namun untuk memenuhi kepuasan dari
hobbi yang aneh itu, mereka tega membunuh satu sama lain. Mereka juga pelaku
dari peledakan di pusat pertokoan yang memakan banyak korban.
15) Bu Dewi
Bu Dewi adalah guru
yang ramah dan cantik. Ia adalah guru di SD tempat Nedena bersekolah. Ia sangat
prihatin melihat kondisi Nedena yang tidak wajar. Hingga ia menyarankan Bibi
Nedena untuk membawa Nedena kepada seorang psikiater yang ia kenal. Psikiater
itu tidak lain adalah dr. Adela.
16) Sahabat tunangan Ken (seorang
perempuan berkacamata tebal)
Perempuan berkacamata
tebal yang juga sahabat dari kekasih Ken, oleh pengarang tidak disebutkan nama
tokohnya. Perempuan tersebut diceritakan telah putus asa dalam menjalani
kehidupnya dan dia ingin mati saja. Hal itu karena dirinya tidak memiliki
seorang kekasih, bahkan menurutnya sahabatnya mengkhianatinya sebab dia lebih
mementingkan kekasihnya ketimbang dirinya. Ketika sedang berbelanja di sebuah
pusat perbelanjaan, perempuan itu menabrak seorang laki-laki besar tak
dikenalinya yang ternyata adalah Bim, tidak lama kemudian terjadi ledakan di
dalam gedung tersebut. Perempuan itu menjadi korban dalam ledakan tersebut.
Sesaat sebelum tewas, dia melihat Michail dan bercerita bahwa dia masih ingin
hidup, namun terlambat karena api akibat ledakan itu telah membakarnya dan dua
ratus korban lainnya di dalam pusat perbelanjaan itu.
3.
Alur
dalam Novel Dadaisme
Dadaisme memiliki alur yang serupa dengan
skenario film, yaitu berupa penggalan-penggalan cerita yang saling berkaitan.
Menurut Saidi, teknik bertutur dalam novel Dadaisme karya Dewi Sartika
seperti skenario kebetulan dalam
jaring laba-laba atau zig-zag (maju-mundur) layaknya dalam sinetron dan
telenovela (http://mediaindo.co.id). Pembaca terus dipaksa mengikuti
alur yang rumit pada setiap bagian dalam ruang yang sempit.
4. Amanat
Dalam
sebuah novel tentu terdapat amanat yang disampaikan oleh penulis baik secara
tersirat maupun tertulis. Adapun amanat yang dapat saya tangkap dari novel ini
lebih tertuju kepada para orang tua untuk tidak mendidik anaknya dengan
kekerasan agar anak yang didik tidak tumbuh dengan kejiwaan yang menyimpang.
Bagaimanapun juga, kasih sayang orang tua sangat dibutuhkan dalam proses
perkembangan seorang anak.
5.
Latar
dalam Novel Dadaisme
Sebuah
novel tanpa menyajikan latar yang baik dapat menimbulkan cerita yang kurang
menarik karena salah satu fungsi latar adalah untuk mendapatkan nilai-nilai
estetis dalam sebuah karya sastra. Latar dalam novel Dadaisme dibedakan
menjadi dua, yaitu latar material dan latar sosial.
1) Latar Material
a. Tempat
Pada
awal penceritaan Dadaisme, nampaknya seperti bercerita tentang sebuah kota
metropolis. Namun gambaran kota metropolis itu ternyata hanya sebuah lukisan di
rumah Bibi, tempat Nedena tinggal. Tempat yang digunakan sebagai latar cerita
dalam Novel Dadaisme adalah ruang kelas, ruang praktik dr.Aleda, rumah
sakit, kamar hotel, kuburan, desa Cimpago Pariama, pusat perbelanjaan,
restoran, hutan, dan planetarium.
Ruang kelas sebagai
latar penceritaan Nedena ketika sedang belajar di sekolah pada bagian satu dan
pada bagia dua, ketika bercerita tentang Yossy. Ruang praktik dr.Aleda sebagai
setting saat Aleda memberikan terapi kepada Nedena dan tempat Nedena gantung
diri. Rumah sakit menjadi latar saat Yossy dirawat di rumah sakit setelah
kecelakaan dan kemudian meninggal. Rumah sakit juga menjadi latar saat Jing
kembali bertemu dengan Ken yang akan meliput kasus kematian Riyanto. Kamar
hotel adalah tempat Asril dan Isabella berselingkuh. Tresna dan selingkuhannnya
pun menggunakan setting kamar hotel untuk berselingkuh. Kuburan adalah setting
pemakaman Yossy.
Desa Cimpago Pariama
adalah latar tempat tinggal keluarga Datuk Malinda. Pusat perbelanjaan adalah
setting peledakan yang dilakukan oleh Bim. Restoran adalah tempat Ken dan Jing
berkencan. Hutan adalah latar Bim dan Jo bermain judi nasib. Planetarium adalah
latar kencan Asril dan Isabella.
b. Waktu
Waktu
penceritaan dalam novel Dadaisme adalah malam, siang, dan menjelang
sore, namun yang mendominasi adalah waktu siang hari. Latar waktu yang
digunakan dalam Dadaisme tentu beragam karena novel tersebut memiliki
banyak tokoh dan peristiwa yang saling berkaitan.
2.
Latar
Sosial
Latar dalam sebuah novel tidak hanya mencakup
tempat atau lokasi terjadinya peristiwa, tetapi menyangkut juga watak kejadian,
sistem maupun norma-norma yang berlaku pada suatu masyarakat tertentu. Latar
sosial yang dapat diungkap adalah pengakuan Aleda yang harus bersikap santun
kepada orang lain, karena dia seorang wanita berpendidikan. Bibi yang mengasuh
Nedena tidak mampu membiayai pengobatan Nedena karena dia mengaku orang miskin.
Ken membunuh Jing karena dia malu jika orang-orang tahu bahwa dirinya seorang gay.
Datuk Malinda malu dengan aib keluarganya, karena dia adalah seseorang yang
berpengaruh di desanya. Sutan Bahari dapat melakukan apa saja karena dia
seorang pengusaha yang memiliki banyak uang. Sutan bahari juga menginginkan
menantu yang berdarah Minang. Bahasa daerah yang digunakan dalam beberapa
percakapan juga menguatkan latar sosial adat
Minang.
B.
Unsur Ekstrinsik
1.
Dadaisme
dan Pengarangnya
Berbeda dengan karya-karya yang dihasilkan pengarang-pengarang
Minangkabau yang lain, yang lebih memiliki gambaran eksplisit tentang
Minangkabau, Dadaisme mengangkat persoalan yang berbeda. Kemungkinan penyebab
utama dari perbedaan ini adalah latar masa kecilnya. Dewi Sartika berdarah
Minang, tetapi lahir di Cirebon dan selama hidupnya dilalui sebagai orang Minangkabau
perantauan. Pola pendidikan dalam keluarga Minang yang matrilineal dan komunal
biasanya tidak pupus setelah berada di wilayah rantau. Mereka bisa bergaul
dengan semua teman dari suku bangsa yang lain, tetapi akan selalu diingatkan
bahwa dia orang Minang yang harus menjaga diri dan nama baik.
Secara sosiologis dia
dapat berada di mana saja, dan mampu beradaptasi dengan baik, tetapi mereka
akan tetap mempertahankan identitas keminangkabauannya secara ideologis.
Perkawinan Rendi dengan Issabella yang dimulai dengan perasaan dendam dan muak
ternyata akhirnya membuat Rendi cukup bahagia, bisa mencintai istri yang hanya
ditemuinya di pelaminan, “Perempuan yang kukenal sebelumnya tak satu pun yang
kucintai,” kata Rendi. Hal ini dapat dilihat sebagai keberpihakan pandangan
pengarang terhadap sesuatu yang diidealkan dalam adat.
Dualitas dunia rantau Dewi
Sartika yang secara sosiologis berhubungan dengan pluralitas budaya dan
pemikiran, dalam perkembangan peradaban yang mengglobal dan aneka warna
persilangan budaya, di sisi lain berhadapan dengan ideologi Minangkabau yang
dipandang wingit. Perantauan menjadi batu ujian membentuk diri menjadi “urang
nan sabana urang” yang dalam bahasa Pak Harto berarti menjadi pembentukan
manusia (Minangkabau) seutuhnya.
2.
Dadaisme
dan Sistem Kultural Zamannya
Globalisasi ekonomi dan
sistem informasi yang terbuka untuk diakses manusia paling primitif pun memberi
peluang terhadap terjadinya perubahan adat dan sistem sosial tradisional di
Minangkabau. Menjamurnya sarana hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan
sebagaimana yang tumbuh di kota-kota lain memberikan perantauan baru bagi orang
Minangkabau walaupun tidak berpindah tempat. Pergaulan bebas dan prostitusi
sudah menjadi budaya baru, dan kehamilan Yusna dapat dilihat sebagai rembesan
peradaban baru yang sudah menjalar mencapai dunia tradisionalis atau dapat
dikatakan sebaliknya, dunia tradisional telah dihisap masuk ke dalam budaya
global.
Pengaruh budaya global
yang kapitalistik itu menurut hipotesis Goldmann melahirkan kebudayaan yang
termediasi atau terdegradasi. Hubungan yang pada awalnya dilandasi nilai guna
berubah menjadi nilai tukar. Walaupun demikian, nilai otentik yang didasarkan
pada nilai guna itu sesungguhnya masih tetap melekat dalam diri manusia.
Perubahan nilai itu dalam novel secara eksplisit dapat digambarkan oleh
perjodohan Yusna dan Rendi yang didasarkan adanya pertolongan finansial yang
diberikan Sutan Bahari, ayah Rendi kepada keluarga Yusna. Sutan Bahari
menginginkan anaknya yang terbiasa hidup di rantau dan tidak mengenal tradisi
Minangkabau menikah dengan gadis sekampung, bukan gadis lain suku. Ayah Yusna
tidak dapat menolak ketika Sutan Bahari memintanya untuk melamarkan Yusna
kepada persukuan istrinya.
Alasan Sutan Bahari
menjodohkan anaknya Rendi dengan gadis sekampung dengan menggunakan kekuasaan
uangnya di satu sisi dapat dilihat sebagai bertahannya nilai otentik dalam
dirinya. Sutan Bahari melihat nilai ideal dalam relasi antarorang sekampung di
tengah sistem nilai yang berubah, di tengah menggejalanya peradaban baru bebas
nilai, yang berusaha dihindarkan dari pilihan hidup Rendi, generasi penerus
Sutan Bahari.
Rendi yang produk
metropolitan, dikembalikan ke dalam lingkaran akar tradisinya dengan
menikahkannya dengan Yusna. Akan tetapi, Yusna ternyata sudah menjadi gambaran
kebudayaan yang terdegradasi. Issabella menggantikan posisi Yusna, menerima
Rendi sebagai suaminya. Hal ini menggambarkan terjadinya mediasi dalam diri
Issabela yang murni tradisional dengan berpisah dari Asril yang juga
tradisional, dan menerima Rendi. Mediasi terjadi dalam diri Issabella dan
Rendi.
3. Dadaisme dan Sistem Sosial Zamannya
Sebagaimana yang sudah
dikemukakan pada pendahuluan, Dadaisme lahir sesudah pecahnya narasi besar
peradaban Barat yang universal dan manjadi acuan tunggal. Dadaisme hadir di
tengah dunia yang majemuk dan menjauhi poros, melepaskan diri sebagai manusia
dari latar budaya dan spiritualitasnya yang asali. Manusia-manusia yang dalam
budaya universal dianggap sebagai objek, kemudian merebut tempat dalam paradigma
baru itu menjadi subjek. Semua mendapat tempat dan semua bisa diakui. Tidak ada
kebenaran tunggal. Stratifikasi didasarkan pada kemampuan kelompok dan individu
merebut jaringan informasi dan kapital jadi unsur penting untuk semua itu.
Dadaisme cukup mahir dalam
menjelaskan semua fenomena itu. Seperti merangkai kembali perjalanan sejarah
perkembangan nalar manusia, dari pantheisme, menuju scholastik dan mencapai
eksistensialisme yang kemudian memecah menjadi atheisme dan parenial. Dalam
melihat sistem sosial yang berkembang dengan cara demikian, tokoh Aleda dan
Magnos dapat dijadikan penanda. Mereka berdua warga gereja, anak-anak Allah
menurut kepercayaan agamanya yang menjadi pendurhaka. Menjalani hubungan
sedarah yang terlarang. Mereka berdua masuk ke dunia scholastik, mempertanyakan
keputusan-keputusan Tuhan dan merasa Tuhan sudah berlaku tak adil pada mereka
dan memutuskan untuk meninggalkan Tuhan.
Hubungan sedarah yang
terjadi antara Aleda dan Magnos dapat dilihat sebagai simbol dunia modern yang narsistik,
menganggap diri yang terbaik dan jatuh cinta pada diri sendiri. Anak haram yang
lahir kembar adalah para schizoprenik yang menurut Piliang18 anti komunikasi dan antisosial. Bagi schizoprenik, mengembara dan
berpindah tempat kemana saja sejauh ia bisa, telah mencemplungkannya semakin
jauh ke dalam deteritorialisasi, dunia yang di dalamnya tidak ada kepastian
posisi ideologis diri.
Di dalam pengembaraan
pluralnya, schizoprenik membiarkan dirinya tenggelam dalam keterpecahan
personal, ia pria atau wanita, namun tidak mau menjadi salah satunya secara
pasti, menjadi malaikat dan setan sekaligus. Ia menuju poros penghancuran,
penghancuran kepercayaan dan makna representasi, serta pertandaan. Ia
menghancurkan dinding benteng hukum dan konvensi sosial yang menyebabkan arus
nafsu (libido) mengalir dengan bebas.
Percintaan sejenis antara
Jing dan Ken menggambarkan libido yang tidak berimbang mengingkari kebenaran
pandangan Freud yang menganggap libido dalam diri manusia membangkitkan
semangat untuk bertahan hidup, dan semangat penghancuran. Hubungan seksual
sebagai libido pertahanan (melanjutkan hidup melalui keturunan), dan membunuh
sebagai libido penghancuran.
Hubungan sejenis Jing dan
Ken adalah hubungan hampa dan memang diakhiri penghancuran mereka berdua. Bim
saudara kembar Jing juga menggambarkan perilaku schizofrenik yang sama,
melakukan pembunuhan masal dengan meledakkan bom di ruang-ruang publik yang
ramai. Mereka berdua yang lahir sebagai generasi scholastic yang skizoprenik,
kehilangan aspek religiositas dan memperhambakan diri pada logika semata,
menuju penghancuran total nilai-nilai.
Aleda dan
Magnos menuju arah yang berlawanan dalam pencarian eksistensialnya. Aleida
memilih jalan parenial, menuju poros induk budaya yang sudah lama ditinggalkan,
sementara Magnos terjebak dalam atheisme, pembendaan segala nilai-nilai. Di
sini Dewi Sartika menunjukkan keberpihakannya.
4. Dadaisme dan Kesusastraan Indonesia
Penulisan Dadaisme berbarengan dengan bangkitnya kaum perempuan
“meratui” lomba-lomba penulisan dan dunia penerbitan. Dimulai kemenangan Saman
karya Ayu Utami yang me-nimbulkan kontroversi dalam pembaharuan penulisan yang
dilakukannya. Kemudian muncul kelompok tandingan dua saudara Helvy Tiana Rosa
dan Asma Nadia dan diikuti Abidah el-Khalieqy dengan warna islami yang kental.
Mereka tergabung dalam Forum Lingkar Pena.
Saman yang menjadi pembuka jalan benar-benar mewakili suara
zamannya, penuh kritik, pemberontakan terhadap nilai yang mapan dan mencari
tawaran dunia yang mungkin, dunia baru yang lebih melegakan karena terbebas
dari belenggu nilai-nilai tradisional. Nada yang sama mengisi karya-karya Dee
dan Jenar Mahesa Ayu. Berbeda dengan Ayu Utami karya-karya Asma Nadia mengacu
kepada pengukuhan nilai-nilai, kepercayaan keagamaan, karya yang islami, dengan
ketaatan pada ketentuan hukum agama.
Sebagaimana kemenduaan orang Minangkabau, Dewi Sartika memandang
persoalan bukan dalam titik yang ekstrim. Gambaran tragis manusia postmodern
yang mengalami berbagai penyakit kejiwaan karena terlepas dari poros menjadi
persoalan yang mendapat perhatiannya. Mereka mengambang tanpa grafitasi pada
satu orbit, mengalami kegamangan dan keputusasaan. Dalam pandangannya sebagai
manusia Minangkabau, tokohnya adalah para perantau yang tidak mengenal jalan
pulang.
Pengembaraan ide Dewi Sartika dalam Dadaisme dapat dikatakan
melampaui Saman. Saman baru sampai dalam tingkat melepaskan diri dari jerat
tradisi dan agama, sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Marah Rusli dalam
konteks lain pada tahun duapuluhan. Sementara Dadaisme membentuk kesadaran yang
khas perantau Minang sebenarnya, merantaulah ke negeri yang jauh, asal tahu
jalan pulang.